Nasional

Pesantren Mampu Jadi Garda Terdepan Penguatan Ekonomi melalui Sektor Pangan

Sab, 2 Desember 2023 | 23:00 WIB

Pesantren Mampu Jadi Garda Terdepan Penguatan Ekonomi melalui Sektor Pangan

Ketua Koperasi Pondok Pesantren Al-Ittifaq Ciburial Bandung Agus Setia Irawan saat menjadi pembicara menjadi pembicara dalam Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) ke-3 Majelis Ulama Indonesia di Hotel Mercure Ancol Jakarta, Sabtu (2/11/2023). (Foto: NU Online/Faizin)

Jakarta, NU Online

Ketua Koperasi Pondok Pesantren Al-Ittifaq Ciburial Bandung Agus Setia Irawan mengatakan bahwa pesantren mampu menjadi salah satu garda terdepan dalam penguatan ekonomi syariah melalui ketahanan pangan khususnya sektor pertanian. 


Hal ini telah dilakukan oleh Pesantren Al-Ittifaq sejak puluhan tahun lalu yang saat ini telah membuahkan hasil untuk kemandirian ekonomi pesantren. Keberhasilan ini mendapat perhatian khusus oleh pemerintah dengan pernah hadirnya Presiden Jokowi dan Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin langsung ke pesantren yang berdiri pada 1934 ini.


"Alhamdulillah Pak Presiden bisa berkeliling di 14 hektar lahan di Pesantren Al ittifaq," katanya saat menjadi pembicara pada Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) ke-3 Majelis Ulama Indonesia di Hotel Mercure Ancol Jakarta, Sabtu (2/11/2023).


Salah satu komoditi pertanian yang menarik presiden Jokowi menurutnya adalah green house yang di dalamnya ditanam tanaman cabai. Cabai yang ditanam di green house tersebut mampu menghasilkan rata-rata 2,5 kilogram per pohonnya. Sementara rata-rata jika ditanam di luar green house hanya menghasilkan 0,8 kilogram.


"Usianya (cabai di dalam green house) bisa mencapai 1 tahun," ungkapnya saat memberi testimoni keberhasilan pesantren dalam mengelola sektor pertanian.


Keberhasilan ini menjadikan presiden terinspirasi untuk meminta para gubernur dan bupati mengirimkan utusan untuk belajar dan magang belajar cabai di pesantren tersebut.


"Jadi berbicara terkait ekonomi dan pangan, pesantren luar biasa kekuatannya," katanya.


Kekuatan yang dimiliki pesantren juga termasuk ketokohan kiainya, tingkat kepercayaan masyarakat pada pesantren yang menjadikan nilai lebih untuk modal konsolidasi dan semangat kebersamaan.


"Transformasi ke depan adalah kolaborasi dan elaborasi seluruh stakeholders," katanya.


Ia pun mengutip pernyataan seorang filosof yakni: If you want to go fast, go alone. But if you want to go far, go together (Jika kamu ingin pergi cepat, pergilah sendiri. Tapi jika kamu ingin pergi jauh, pergilah bersama). 


Dalam penelolaan sektor pertanian, kolaborasi memiliki peran penting karena di dalamnya harus ada kolaborasi dari mulai hulu sampai hilir. Di mulai dari benih, pupuk, kebutuhan perawatan, sampai dengan panen dan pemasaran. Maka kolaborasi menjadi sebuah keniscayaan.


Sebagai informasi Pondok Pesantren Al-Ittifaq didirikan pada 1 Februari 1934 oleh K.H. Mansyur. Berlokasi di Kampung Ciburial, Desa Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat. Pesantren ini sudah menjadi model dalam penguatan ekonomi dengan tidak hanya memaksimalkan peran pesantren namun juga menggandeng stakeholder terkait.


Agus Setia menyebut beberapa langkah yang dilakukan koperasi pesantren seperti menjadi offtaker, agregator, dan mentor bagi stakeholder.


"Melakukan pembinaan kepada kelompok tani mitra se-Indonesia dan membuka jejaring pasar akses pasar baru di wilayah lain," ungkapnya menyebut langkah yang sudah dilakukan.


Selain itu, pihaknya juga mendapat dukungan dari berbagai pihak seperti infrastruktur pertanian yang disediakan dari program pemerintah, pembiayaan dari BUMN dan CSR untuk memastikan keberlanjutan program dan juga pembinaan yang dibantu oleh pendamping nasional dan internasional.